Dynamic Glitter Text Generator at TextSpace.net
Terwujudnya Kendal yang Beriman, Bertaqwa, Cerdas, Terampil dan Berbudaya

28 November 2007

Pengelolaan Sekolah Kita

Posted by Utomo 10:09 AM, under ,,, | 3 comments

Saat ini pendidikan kita masih dihadapkan pada persoalan-persoalan seputar mutu pendidkan dan pmerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Mana yang lebih dulu perlu dipecahkan menjadi bahan perdebatan yang seru. Ada kelompok yang lebih mengedepankan pemerataan lebih dulu denga alasan keadilan, tetapi ada pula kelompok yang lebih mengutamakan mutu karena untuk mengejar ketertinggalan.
Sayangnya banyak praktisi pendidikan yang justru tidak melakukan dua-duanya. Meningkatkan mutu tidak dan memperluas pemerataanpun tidak.
Tengoklah ke sekolah, gali lebih dalam bagaimana sekolah dikelola. Pada awal tahun saat penerimaan siswa baru sekolah-sekolah yang berorientasi pada mutu mestinya sudah berani mengambil pilihan membatasi jumlah siswa yang diterima. Pembatasan ini tidak hanya didasarkan pada ketersediaan ruang kelas tetapi juga mempertimbangkan beban guru dalam mengajar. Pembatasan jumlah murid dalam satu kelas menjadi kelas kecil dengan jumlah yang memungkinkan guru bisa memberikan perhatian kepada murid adalah bukti konkrit orientasi sekolah pada mutu yang tinggi.
Pertanyaan yang patut diajukan adalah : ada berapa sekolah yang sudah melakukan hal ini? Alasan yang dikemukan selalu saja tentang biaya. Alasan klasik. Penulis punya keyakinan kalau sekolah bisa membuktikan bahwa sekolah bisa memberikan nilai tambah yang nyata, orang tua pasti akan memberikan dukungan. Selama ini dukungan masih belum optimal karena orang tua merasa bahwa nilai tambah yang diberikan oleh sekolahpun belum optimal.
Kenyataan kedua yang bisa dijadikan indikator bahwa masih belum banyak sekolah belum berorientasi pada mutu bisa dilihat dari anatomi RAPBS/APBSnya. Tengoklah berapa prosen anggaran yang dialokasikan untuk buku perpustakaan, alat pelajaran, bahan praktek. Sudahkan pengalokasiannya berpihak pada peningkatan mutu? Kalau sudah lihatlah realisasinya. Apakah rencana anggaran itu sudah direalisasi sesuai rencana? Jika jawabnya sudah coba gali lebih dalam bagaimana pemanfaatannya, adakah upaya-upaya konkrit untuk itu?
Kita semua menyadari bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan. Core bisnisnya atau kegiatan pokoknya adalah PROSES PEMBELAJARAN. Inti proses pembelajaran adalah interaksi siswa dengan sumber belajar dengan guru sebagai fasilitator dan sumber belajar. Karena PROSES PEMBELAJARAN atau Kegiatan belajar mengajar adalah CORE BISNIS nya sekolah maka mestinya sumber daya sekolah diarahkan untuk memperbaiki kualitas kegiatan utama sekolah (KBM) itu. Kegiatan-kegiatan lain di sekolah adalah dalam rangka keberhasilan KBM. Berkaitan dengan tugas pokok sekolah yang demikian maka pertanyaan yang muncul adalah : berapa prosen waktu yang digunakan kepala sekolah yang diarahkan secara langsung untuk memperhatikan kualitas KBM? Pertanyaan yang lebih spesifik adalah berapa frekwensi kepala sekolah melukan supervisi sehingga dia tahu betul mana guru yang KBM nya berkwalitas dan mana yang belum? Bantuan profesional apa yang sudah dilakukan oleh kepala sekolah kepada guru untuk memperbaiki KBM? Punyakah kepala sekolah progres kemajuan kelas dalam KBM yang diupdate setiap saat? Berapa jam dalam satu hari di sekolah yang digunakan untuk mengikuti perkembangan peningkatan KBM?
Dari pengamatan sepintas (semoga pengamatannya salah) KBM sebagai core bisnis sekolah belum mendapatkan perhatian yang PROPORSIONAL oleh kepala sekolah. Bahkan pada beberapa kasus kepala sekolah lebih sibuk mengurusi yang lain-lain dibandingkan dengan perhatiannya kepada kegiatan belajar mengajar. Bahkan ada yang melimpahkan sepenuhnya KBM kepada wakil/urusan kurikulum.
Dari indikator-indikator ini barangkali cukup untuk mengatakan bahwa kita masih setengah hati meningkatkan mutu pendidikan. (BERSAMBUNG)

Beberapa Kelemahan Guru Dalam Mengajar

Posted by Utomo 9:30 AM, under ,,, | 4 comments

Tulisan ini bukan merupakan kesimpulan atas kinerja guru secara umum, tetapi hanyalah merupakan temuan penulis selama melaksanakan supervisi kunjungan kelas pada beberapa sekolah yang menjadi binaan penulis ditambah dengan pengamatan penulis pada saat mengikuti kegiatan lesson study MGMP Bahasa Inggris beberapa waktu yang lalu. Sengaja diberi judul demikian karena yang akan dipaparkan adalah kelemahan-kelemahan yang nyata ditemukan penulis. Hal ini dimaksudkan agar bisa menjadi input bagi para guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajarannya.
Dari pengamatan penulis terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dapat dikemukakan beberapa kelemahan antara lain :
1. Guru tidak menggunakan RPP sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran
RPP adalah skenario pembelajaran yang dibuat oleh guru sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai. Dalam dokumen tersebut tidak hanya berisi kompetensi apa yang akan dicapai tetapi juga memuat secara rinci berapa lama waktu tatap muka dilakukan. Bahkan dirinci pula berapa menit kegiatan awal untuk melaksanakan kegiatan rutin, apersepsi dan penjajagan untuk mengenal bekal awal siswa. Waktu yang digunakan untuk kegiatan inti, dan rincian waktu untuk kegiatan akhir.
Dalam RPP juga tercantum secara jelas alat bantu mengajar apa yang diperlukan dan sumber belajar apa yang digunakan. Demikian pula di dalam RPP juga telah dicantumkan rencana kegiatan penilaian yang merupakan upaya untuk mendapatkan umpan balik keberhasilan guru dalam mengajar.
Kenyataannya RPP tidak difungsikan, bahkan ada guru yang mengajar tanpa bertpedoman pada RPP. Hal ini menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak terarah.

2. Guru tidak mempersiapkan alat bantu mengajar.
Alat bantu mengajar sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menjelaskan materi pelajaran, sehingga siswa mengetahui secara nyata melalui benda-benda yang nyata. Dengan alat bantu ini pengetahuan tidak hanya berupa verbal, dan bisa mengatasi kesenjangan komunikasi guru dengan siswa.
Kenyataannya guru tidak membawa alat bantu mengajar sehingga yang dilakukan hanyalah ceramah-dan ceramah saja.
3. Guru kurang memperhatikan kemampuan awal siswa.
Pengetahuan ten tang kemampuan awal siswa diperlukan oleh guru untuk menetapkan strategi mengajar, bahkan untuk mengajukan pertanyaanpun diperlukan pemahaman tentang kemampuan awal siswa. Dengan memahami kemampuan awal siswa ini guru dapat membantu siswa memperlancar proses pe,mbelajaran yang dilkukan dan memperkecil peluang kesulitan yang dihadapi siswa. Adakalanya satu materi tertentu memerlukan prasarat pengetahuan sebelumnya. Jika pengetahuan prasyarat ini belum dikuasi dan guru sudah melanjutkan pada materi berikutnya bisa dipastikan bahwa siswa akan kesultan mengikuti pelajaran. Hal ini bisa dideteksi melalui perilaku siswa. Siswa yang tidak dapat mengikuti materi yangs edang dibahas oleh guru cenderung berperilaku "menyimpang" seperti: melamun, menulis atau menggambar yang tidak ada hubungannya dengan materi pelajaran, berbicara sendiri atau kegiatan-kegiatan lain yang tidak terkait dengan isi pembelajaran.
4. Penggunaan papan tulis yang kurang tepat
pada umumnya guru langsung memulai pelajaran tanpa menuliskan Pokok persoalan yang akan dibahas dan tujuan pembelajarannya. Penulisan pokok bahasan dan tujuan pembelajaran ini bergna sebagai kontrol bagi guru dan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar tidak keluar dari jalur. Kecenderungan lainnya adalah penggunaan papan tulis yang kaacau. Siswa tidak tahu apa sebenarnya yang dibahas, dan untuk apa hal itu dibahas. Guru terlalu sibuk menulis dan membuat ilustrasi di papan tulis yang kadang-kadang sulit ditangkap siswa dan tidak disimpulkan.
5. Tidak melaksanakan evaluasi
Dengan alasan kekurangan waktu seringkali guru tidak melaksanakan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Evaluasi ini bertguna bagi guru untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pembelajaran yang dilakukannya. Dengan melakukan evaluasi pada setiap akhir kegiatan /bahasan akan bisa mendeteksi siswa mana yang masih kesulitas dan pada bagian apa siswa merasa sulit. Hal ini akan sangat berguna bagi guru dalam membantu siswa
Apabila 5 macam kelemahan guru ini dapat diperbaiki, maka peoses pembelajaran akan menjadi lebih bermutu dan muaranya nanti pada hasil belajar yang lebih baik. Perubahan pada kelima kelemahan tersebut tidak memerlukan biaya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran diri untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Kepala sekolah dapat berperan dalam perbaikan proses pembelajaran ini dengan cara lebih sering melaksanakan supervisi kunjungan kelas.

Reviu KTSP SD dan Sosialisasi Standar Nasional Pendidikan

Posted by Utomo 5:13 AM, under | No comments

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal dan Tim pengembang kurikulum secara maraton mengadakan reviu KTSP SD dan sosialisasi Standar Nasional Pendidikan. Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari di lima kawedanan dan diikuti oleh semua SD di wilayah masing-masing.
Adapun materi dalam kegiatan tersebut antara lain: telaah KTSP, Standar Pengelolaan Pendidikan (Permen 19/2007), Standar Penilaian (Permen 20 /2007, Standar Sarana dan Prasarana (Permen 24/2007) serta kegiatan perbaikan dokumen KTSP.
Bertindak sebagai nara sumber adalah para pengawas yang tergabung sebagai anggota Tim Pengembang Kurikulum antara lain : Slamet Suryanto, Suroto, Sunaryo, Ali Satiran, Sutejo, Moh Fatah dan Abdul Wahib.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan KTSP di SD dan meningkatkan pemahaman guru dan kepala sekolah terhadap standar nasional pendidikan.

MGMP Bahasa Inggris adakan Lesson study

Posted by Utomo 5:05 AM, under |

Sebagai salah satu kegiatan dalam revitalisasi MGMP, MGMP bahasa Inggris Selasa, 27 November 2007 mengadakan lesson study di SMP Muhammadaiyah 3 Kendal. Perencanaan pembelajaran disusun bersama oleh MGMP. Dalam lesson study tersebut guru bahasa inggris SMP N Weleri mendapatkan kesempatan menjadi pengajar di kelas 9 SMP Muhammadiyah 5 Kendal sedangkan angota MGMP yang lain sebagai observer.
Kegiatan diawali dengan penjelasan guru tentang rencana pembelajaran yang akan dilakukan, dilanjutkan pelaksanaan pembelajaran yang diobservasi oleh observer dan diakhiri dengan open house. Pada kegiatan open house observer menyampaikan hasil pengamatannya terhadap proses pembelajaran yang dilakukan.

26 November 2007

Hari Guru, Janji Presiden

Posted by Unknown 8:39 AM, under | 1 comment

Mohon dikomentari artikel dari antara berikut :

PRESIDEN JANJI NAIKKAN KESEJAHTERAAN GURU

Pekanbaru, 25/11 (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji menaikkan kesejahteraan guru yang dianggap berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.
Pernyataan itu disampaikan Presiden di hadapan sekitar 15 ribu guru yang memenuhi gedung Rumbai Sport Hall, Pekan Baru Riau dalam rangka peringatan hari guru dan ulang tahun ke-62 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
"Pendidikan jadi prioritas. Saya dan menteri akan meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan guru. Ini adalah komitmen dan tanggungjawab negara menaikkan kesejahteraan, " kata Presiden yang berseragam batik PGRI berwarna hitam putih.
Presiden meminta agar Mendiknas dan Menkeu serta DPR untuk merumuskan kenaikan anggaran pendidikan disertai kenaikan kesejahteraan guru.
"Jumlahnya tentu cukup signifikan, namun tidak meninggalkan tugas peningkatan kesejahteraan profesi lain," kata Presiden.
Presiden mengatakan Pemerintah dangan segala tantangan dan keterbatasannya berusaha terus meningkatkan pendidikan agar manusia dan bangsa Indonesia lebih bermartabat, unggul dan berdaya saing.
Menurut dia, jika dunia pendidikan terus digalakkan dan ditingkatkan maka tujuan memajukan bangsa bisa terwujud dan bisa menang dalam persaingan keras globalisasi.

Guru bangsa
Presiden dalam kesempatan itu juga mengatakan para guru juga merupakan pemimpin yang setiap tingkah laku dan perkataannya diikuti (digugu) dan ditiru.
"Seperti halnya guru bangsa yang berat untuk menuju ke situ, karena lebih dituntut untuk berbuat bagi bangsanya. Lebih mawas diri apalagi dengan mengkritik secara berlebihan seolah mereka semua salah. Ikuti ilmu padi makin berilmu makin merunduk," katanya.
Presiden juga mengatakan apabila ada saran atau keinginan yang akan disampaikan guru kepada pemerintah, tidak perlu melakukan unjuk rasa.
"Kita tidak harus berunjuk rasa, kalau guru unjuk rasa murid bingung siapa yang akan ajar mereka. Tanpa berunjuk rasa pun kita akan respons dengan baik," katanya.
Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono juga disertai sejumlah menteri seperti Menko Kesra Abu Rizal Bakrie, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menag Maftuh Basyuni, Meneg LH Rahmat Witoelar, Mensesneg Hatta Rajasa, MenPAN Taufik Effendi, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal M. Lukman Edy serta Ketua DPD Ginanjar Kartasasmita.

4 Kepala Sekolah Kendal ikuti Program Kemitraan

Posted by Utomo 8:05 AM, under | No comments

Empat kepala sekolah masing masing dua kepala SMP dan dua kepala SD mengikuti program kemitraan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Keempat kepala sekolah tersebut adalah : kepala SMP 1 Weleri, kepala SMP Mualimin, kepala SD Bebengan II Boja, dan kepala SD di kecamatan Weleri. Mereka akan bergabubung dengan 28 orang kepala sekolah yang lain dari tujuh Kabupaten di Jawa Tengah.
Kegiatan meliputi workshop penyusunan action plan, on the job training di sekolah pengimbas, workshop penyusunan action plan implementasi di LPMP dan implementasi program di sekolah imbas.
Peserta kemitraan diharapkan dapat melakukan perubahan di sekolahnya masing-masing sehingga sekolahnya lebih maju dan bermutu. Perubahan yang menjadi fokus program kemitraan adalah perubahan manajemen sekolah, pembelajaran dan peran serta msyarakat.

Kendal Juara II Tuntas Madya Lomba Wajar Dikdas Tingkat Propinsi Jawa tengah

Posted by Utomo 8:03 AM, under | No comments

Kabupaten Kendal pada tahun 2007 berhasil menorehkan prestasi di Tingkat Propinsi sebagai Juara II Lomba Wajar Dikdas. Dengan APK 85,75 Kabupaten Kendal berhasil mengungguli Kabupaten 11 Kabupaten lain dalam pelaksanaan Wajar Dikdas.
Dalam lomba ini selain peningkatan angka partisipasi kasar (APK) yang termasuk unsur penilaian adalah manajemen wajar dikdas antara lain adalah : komitmen pemda dalam pelaksanaan wajar dikdas, upaya-upaya yang dilakukan oleh tim koordinasi serta bentuk-bentuk sosialisasi dalam rangka mensukseskan wajar dikdas.
dalam lomba ini keluar sebagai juara I adalah kabupaten Banjarnegara, disusul jauar II Kabupaten Kendal dan juara III kabupaten Pekalongan.
Penerimaan piala dan piagam dilaksanakan di Hotel Beringin Salatiga oleh Waklil Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah. Selain piala dan piagam juga diberikan hadiah berupa uang pembinaan masing-masing Rp. 30 juta untuk juaran I, 25 juta untuk juara II dan juara III mendapatkan 20 juta.

22 November 2007

Seri Manajemen

Posted by Utomo 4:29 PM, under | No comments

Manajer Sukses vs Manajer Efektif
15 Aug 2002 00:00


Ir. Bambang Adi Subagio, M.M.

Mana yang lebih penting, menjadi manajer sukses atau menjadi manajer efektif? Jika dihadapkan pada pertanyaan ini mungkin Anda sedikit bingung. Apakah manajer efektif tidak otomatis menjadi manajer sukses? Bukankah seseorang manajer disebut sukses karena dia efektif? Nah sebelum ngelantur lebih jauh sebaiknya kita menyamakan bahasa terlebih dulu. Manajer sukses adalah manajer yang mempunyai indeks sukses di atas rata-rata manajer lainnya, di mana indeks sukses merupakan rasio antara tingkat manajerial yang berhasil dicapai dan masa kerja. Manajer efektif, di lain pihak, adalah manajer yang berhasil mencapai prestasi kerja tinggi dibanding dengan standar yang telah ditentukan, serta mampu melakukan pekerjaan melalui orang lain dengan tingkat kepuasan dan komitmen yang tinggi. Dalam kenyataan memang tidak tertutup kemungkinan bahwa seorang manajer sukses sekaligus juga menjadi manajer efektif. Namun karakteristik kedua jenis manajer ini tetap dapat dibedakan.

Tahukah Anda tugas atau pekerjaan manajer pada umumnya? Jawaban yang paling populer mungkin adalah POAC (Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling). Maka tidak heran apabila Anda juga menjawab demikian. Hal ini dapat dimengerti karena dalam kurun waktu yang cukup lama - sejak Henri Fayol mengemukakan pemikirannya yang sangat terkenal ‘The five Fayolian functions of management’ (Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, dan Controlling) - para manajer sejagad meyakini (atau diyakinkan) bahwa tugas atau pekerjaan manajer hanya melakukan kelima fungsi manajemen tersebut. Namun berdasarkan penelitian beberapa pakar manajemen, di antaranya Henry Mintzberg, John Kotter dan Fred Luthans diperoleh gambaran yang lebih komprehensif bahwa tugas manajer sebenarnya tidak hanya melakukan kelima fungsi manajemen seperti yang dikemukakan oleh Fayol tersebut.

Mintzberg mengatakan bahwa pekerjaan manajer terdiri dari banyak pekerjaan pendek (brief) yang tidak selalu berkesinambungan (disconnected) dan mereka sering terlibat dalam hubungan dengan banyak orang, baik di dalam maupun di luar organisasi. Lebih jauh dikatakan pula bahwa manajer mempunyai banyak peran dan mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan peran yang dimainkannya. Dalam hal hubungan interpersonal, manajer berperan sebagai figur kepala, pemimpin dan penghubung. Dalam hal informasional mereka berperan sebagai pengawas, penyebar informasi dan juru bicara. Kemudian sebagai pengambil keputusan mereka berperan sebagai wirausaha, pemecah masalah, pengalokasi sumber daya, dan negosiator.

John Kotter dari Harvard Business School menambahkan bahwa pekerjaan manajer tidak hanya melulu melakukan ‘Fayolian functions’. Lebih dari itu para manajer menggunakan sebagian besar waktu mereka untuk berinteraksi dengan orang lain, melalui pertemuan-pertemuan guna mendapatkan dan/atau memberi informasi, yang oleh Kotter disebut sebagai ‘membangun jejaring (networking)’. Melalui cara ini manajer dapat membuat ‘agenda’ sebagai hasil kompromi, serta sedikit melonggarkan kekakuan di antara mereka yang kadang-kadang terjadi karena masing-masing mempunyai sasaran berbeda.

Manajer Sukses vs Efektif : Empat Aktivitas Manajerial

Yang terakhir adalah penelitian oleh Fred Luthans dari University of Nebraska, Lincoln. Luthans mengelompokkan pekerjaan manajer dalam empat aktivitas manajerial sebagai berikut:

Komunikasi, yaitu aktivitas yang meliputi pertukaran informasi secara rutin dan pemrosesan pekerjaan tulis-menulis.
Manajemen tradisional, yaitu aktivitas yang terdiri dari perencanaan, pengambilan keputusan dan pengendalian.
Manajemen sumber daya manusia, yaitu aktivitas yang berkaitan dengan aspek perilaku, misalnya motivasi/pemberian dukungan, pendisiplinan/penghukuman, manajemen konflik, staffing, dan pelatihan/pengembangan.
Jejaring (networking), yaitu aktivitas yang meliputi sosialisasi/berpolitik, berinteraksi de-ngan pihak luar, serta hal-hal ‘chit chat’ lainnya yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
Luthans dapat dikatakan menampilkan uraian tentang pekerjaan manajer yang paling lengkap dibanding Fayol, Mintzberg dan Kotter. Diskripsinya mencakup pendapat klasik dari Fayol (aktivitas manajemen tradisional), aktivitas komunikasi dari Mintzberg dan aktivitas jejaring dari Kotter. Tambahan dari Luthans yang cukup penting dan melengkapi adalah aktivitas manajer pada manajemen sumber daya manusia.

Untuk mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan oleh para manajer sukses dan manajer efektif, Luthans melakukan penelitian terhadap 248 manajer. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir sepertiga waktu dan tenaga mereka digunakan pada aktivitas komunikasi, sekitar sepertiga pada aktivitas manajemen tradisional, seperlima pada manajemen sumber daya manusia dan kurang-lebih seperlima pada aktivitas jejaring.

Selain melakukan penelitian secara umum tentang aktivitas manajer, Luthans juga melakukan penelitian secara khusus untuk mengamati apa yang dilakukan oleh kelompok manajer sukses dan juga apa yang dilakukan oleh kelompok manajer efektif. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut mempunyai pola aktivitas manajerial yang berbeda.

Pada kelompok manajer sukses, terlihat nyata bahwa mereka mengalokasikan waktu dan tenaga paling banyak pada aktivitas jejaring (48%). Selanjutnya aktivitas komunikasi berada di urutan kedua (28%), manajemen tradisional di urutan ketiga (13%) dan sumber daya manusia adalah aktivitas yang alokasi waktunya paling sedikit (11%). Hal ini menunjukkan bahwa - dengan menggunakan kecepatan promosi sebagai ukuran sukses - manajer sukses lebih banyak menggunakan sebagian besar waktu dan tenaga mereka untuk bersosialisasi, berpolitik, dan berinteraksi dengan pihak luar dibandingkan dengan rekannya yang kurang sukses. Lebih jauh lagi dapat dikatakan bahwa manajer sukses tidak banyak menggunakan waktu dan tenaganya pada aktivitas manajemen tradisional atau pada manajemen sumber daya manusia.

Pada kelompok manajer efektif, aktivitas yang mendapat perhatian paling besar adalah komunikasi (44%), kemudian manajemen sumber daya manusia (26%), selanjutnya manajemen tradisional (19%), dan yang terakhir jejaring (11%). Dari hasil penelitian tersebut diperoleh gambaran bahwa kontribusi relatif terbesar bagi manajer efektif berasal dari aktivitas yang berorientasi pada aspek manusia, yaitu komunikasi dan manajemen sumber daya manusia. Dengan sendirinya berarti pula bahwa bagi manajer efektif, aktivitas yang berkaitan dengan pembinaan jejaring kurang diprioritaskan, sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh manajer sukses.

Uraian di atas barangkali dapat Anda gunakanan sebagai acuan, atau setidak-tidaknya inspirasi, untuk mengembangkan karir Anda di masa depan - mau menjadi manajer sukses atau manajer efektif. Kalau mau menjadi manajer sukses, perluaslah jejaring dan keterampilan berkomunikasi, sedangkan bila ingin menjadi manajer yang efektif, asahlah kemampuan komunikasi dan penguasaan akan manajemen sumber daya manusia.

Melalui tulisan ini mudah-mudahan Anda mendapat inspirasi dan dapat menarik manfaat untuk memilih apakah Anda akan menjadi manajer sukses atau efektif, atau bahkan keduanya - sukses sekaligus efektif.

Memberdayakan Pencarian di Google

Posted by Utomo 5:57 AM, under | No comments

Tak semua orang yang melek internet mengerti harus bagaimana untuk mendapatkan informasi, data, atau lagu dari internet. Dia tahu, googling atau mencari dengan enjin Google merupakan cara bertanya, tetapi sering kali gagal. Itu semua karena satu hal: meremehkan Google tak mengerti bahasa kita.

Popularitas Google sebagai mesin pencari hampir sama dengan internet sendiri. Tampilan sederhana dan algoritma perhitungan yang canggih membuat Google banyak disukai dibandingkan dengan pesaingnya, Yahoo.

Pencarian sering lama dan membuang waktu karena kata kunci yang diberikan terlalu sedikit, misalnya: ”iwan fals”. Padahal, yang diinginkan download lagu MP3 dari Iwan Fals.

Makin banyak kata yang dimasukkan, seperti: ”iwan fals download mp3” (tanpa tanda kutip) barulah lagu yang diinginkan bermunculan. Semakin banyak dan makin spesifik informasi yang kita masukkan, makin cepat menemukan yang dicari.

Cara pencarian dengan memasukkan banyak kata yang kemungkinan ada di dalam dokumen merupakan ”cara bodoh” paling mudah jika kita tak ingin menghafal ”rumus” tertentu.

Jika ingin cara yang lebih cepat, bisa menggunakan ”rumus” tertentu. Untuk pencarian MP3, misalnya, ada banyak cara, salah satunya seperti ”iwan fals site:multiply.com/music”, berarti hanya mencari lagu Iwan Fals di situs jaringan sosial Multiply.

Cara lain yang telak adalah memanfaatkan format pencarian dengan format seperti: intitle: ”index of” mp3 ”peterpan”, untuk mencari lagu Peterpan.

Cara bodoh

Tidak tahu siapa yang menemukan mesin uap? Masukkan saja kata kunci sederhana, misalnya ”mesin uap ditemukan oleh” (tanpa tanda kutip), atau tanda * (bintang) bisa mewakili sembarang kata, maka secara cepat akan mendapatkan jawaban dengan memasukkan ”mesin uap ditemukan oleh *” (tanpa tanda kutip) dan jawabannya akan muncul.


Google mampu menginterpretasikan parameter yang diberikan untuk mempercepat pencarian. Tanda ”+” dan tanda kutip (” ”) untuk pencarian frase seperti: mesin+uap atau ”mesin uap”. Pencarian pun bisa memasukkan file spesifik, misalnya hanya file pdf. Contoh: jika ingin mencari dokumen pdf Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, kita bisa memasukkan ”taman nasional laut kepulauan seribu filetype:pdf”. Jika file yang dicari dalam Microsoft Word, tinggal mengisi filetype:doc.

Jika sudah tahu di situs mana akan dilakukan pencarian, bisa digunakan format ”site:nama situs”. Misal, jika ingin mencari kesehatan reproduksi di situs Kompas, bisa diketik: ”site:kompas.com kesehatan reproduksi” (tanpa tanda kutip). Masih banyak tanda-tanda spesifik untuk meningkatkan pencarian dan semuanya bisa dicari di Google.

Kalkulator

Jika sudah di depan Google, tak perlu membutuhkan kalkulator. Coba langsung masukkan 245*234+123-45, hasilnya akan langsung terlihat. Google juga bisa langsung mengonversi satuan yang berbeda, misalnya jika ingin mengetahui 500 pounds itu berapa kg, bisa mengetikkan ”500 pounds in kg”.

Untuk mengonversi mata uang asing tak perlu menelepon ke sana kemari. Misal, jika ingin tahu 50 dollar Singapura itu ada berapa rupiah, tinggal mengetikkan ”50 SGD in IDR” (tanpa tanda kutip). IDR merupakan kode Indonesian rupiah.

Khusus yang menyukai buku, Google menyediakan alamat khusus di www.books.google.com. Berbagai ragam buku disediakan di sini.

Masih ada seabrek fitur, seperti google map yang mengintegrasikan Google Earth, google images untuk mencari khusus koleksi foto, google video, dan semua ada di internet.

***

Tips Pencarian

1. Prinsip pertama dalam menghadapi mesin pencari seperti Google atau Yahoo adalah jangan "under-estimate" dengan kemampuannya. Masukkan informasi sebanyak mungkin dalam pencarian itu.

2. Untuk mencari gambar, klik khusus pencarian khusus "images" dan video. Baik di Google maupun Yahoo, tersedia.

3. Google juga memiliki kamus penerjemah. Klik Language Tools di bagian bawah untuk menerjemahkan bahasa tertentu ke dalam bahasa yang Anda pahami. Namun, hanya bahasa besar dunia yang tersedia. Untuk English-Indonesia dan Indonesia-English, gunakan www.kamus.net.

4. Untuk memperdalam informasi, Wikipedia merupakan ensiklopedia terbuka. Untuk Wikipedia Bahasa Inggris, alamatnya http://en.wikipedia.org dan untuk Bahasa Indonesia di http://id.wikipedia.org. Sebagai ensiklopedia bebas, jika artikel di Wikipedia tidak bagus, kita bisa menyumbangkan artikel di situ. (AMR)Sumber: Kompas 22/11/2007

21 November 2007

KEKERASAN GURU PADA ANAK

Posted by Utomo 4:58 AM, under | 1 comment

Hasil penelitian Unicef di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara pada 2006 yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sebagian besar (80 persen) dilakukan oleh guru, layak menjadi perhatian kita. Hasil pemenitian itu memberikan kesadaran bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah, tempat yang selama ini dipercaya paling aman dan terbaik untuk anak.

Selain itu, hasil penelitian tersebut memberikan kesadaran pada kita bahwa kekerasan pada anak tidak hanya berupa kekerasan fisik. Namun, bisa berupa kekerasan nonfisik, seperti pemberian tugas berlebihan, memberikan target prestasi terlalu tinggi, hingga memaksa anak melakukan sesuatu di luar minatnya.

Perlu disadari, kekerasan seperti itu, terkadang -bahkan sering- tidak disertai niat jahat. Sebaliknya, tindakan itu malah berselimut niat baik. Karena itu, pada umumnya mereka yang melakukan kekerasan pada anak sama sekali tidak merasa bersalah. Mereka merasa bahwa dirinya telah berbuat kebaikan. Telah memberikan yang terbaik kepada anak.

Karena itu, pengertian atau definisi tentang kekerasan kepada anak yang meliputi aspek fisik dan nonfisik perlu dimengerti oleh mereka yang memiliki tugas mendidik anak -baik guru maupun orang tua. Anak harus dilihat sebagai individu mandiri, yang berbeda dengan orang tua atau gurunya. Anak memiliki bakat, kemampuan, minat, kebiasaan yang berbeda. Mereka bukanlah makhluk kecil yang merupakan jelmaan guru atau orang tuanya.

Memang, tidak mudah untuk bisa memiliki pemahaman seperti itu. Guru maupun orang tua sering memiliki sejumlah ambisi pribadi yang dibebankan di pundak anak. Mereka selalu berdalih demi masa depan anak. Mereka menganggap anak sebagai benda mati yang masa depannya harus ditentukan guru atau orang tua.

Khusus untuk guru, mereka terkadang juga dipaksa oleh keadaan. Yakni, adanya sistem pendidikan yang tidak mengacu kepada kepentingan anak. Tapi, lebih mengacu kepada kepentingan industri, kepentingan kapitalis maupun kepentingan penguasa. Anak dipaksa memiliki kualifikasi tertentu demi mengejar standardisasi yang ditetapkan penguasa, dunia industri, atau para kaum kapitalis.

Padahal, hakikat pendidikan semestinya bukan itu. Pendidikan seharusnya lebih diarahkan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. Anak harus diarahkan menjadi dirinya sendiri. Dengan demikian, ketika dewasa, anak bisa hidup dari dirinya sendiri. Bukan hidup karena menjadi kuli orang lain atau menjadi budak kaum pemilik modal.

Bila berbicara sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini, betapa ciri-ciri eksploitasi kepada anak itu begitu jelas. Anak yang punya karakteristik berbeda-beda dipaksa memiliki kemampuan sama. Lewat ujian nasional (unas), mereka dipaksa memiliki kepampuan yang memadai dalam beberapa mata pelajaran. Padahal, tidak semua anak memiliki kemampuan baik di bidang itu -tahun lalu, matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang seni, olahraga, atau bidang lain, tapi lemah di ketiga mata pelajaran tadi bisa divonis menjadi anak bodoh. Anak tersebut akan divonis tidak lulus, sehingga kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi menjadi hilang. Kasus ini sudah banyak terjadi. Karena itu, sudah saatnya kita mengevaluasi diri. (Sumber : Jawa Pos Rabu 21 Nov 2007)

20 November 2007

RALAT WAKTU PELAKSANAAN WORKSHOP KOMITE SEKOLAH

Posted by Utomo 6:33 AM, under | No comments

DIBERITAHUKAN DENGAN HORMAT KEPADA SEGENAP KETUA KOMITE SD/MI,SMP/MTs,SMA/MA/SMK YANG TELAH MENDAPATKAN UNDANGAN WORKSHOP PEMBERDAYAAN KOMITE BAHWA PELAKSANAAN WORKSHOP YANG SEMULA DILAKSANAKAN PADA :

HARI/TANGGAL : KAMIS, 22 NOVENBER 2007

DIUNDUR PELAKSANAANNYA MENJADI :

HARI/TANGGAL : SABTU, 1 DESEMBER 2007

ADAPUN TEMPAT DAN JADWAL ACARA TETAP.

DEMIKIAN PEMBERITAHUAN INI, UNTUK MENJADIKAN MAKLUM.

TTD

PANITIA

Rp. 1 Trilliun untuk Internet Sekolah

Posted by Utomo 6:11 AM, under | No comments

Kamis, 15 November 2007, 08:31 WIB


, Wayan Adi - Kuta Bali, Pemerintah akan menyiapkan dana sebesar Rp 1 triliun untuk program komputerisasi atau pengadaan komputer dan jaringan internet di 10.000 SMP dan SMA di seluruh Indonesia pada 2008.
Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo usai membuka simposium internasional pendidikan jarak jauh di Hotel Kartika Plaza Kuta Bali, Rabu (14/11).

Ia menyebutkan, dana tersebut masing-masing Rp 500 miliar untuk tingkat SMP dan Rp 500 miliar untuk tingkat SMA dengan target seluruh sekolah di Indonesia akan memiliki laboratorium komputer dengan jaringan internet.

Hal itu diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan mendukung program pendidikan online antara Departemen Pendidikan Nasional sengan sekolah-sekolah dan antara sekolah dengan sekolah lainnya. (der)
[www.elshinta.com]

19 November 2007

PERHATIAN SANG GURU

Posted by Utomo 7:39 AM, under ,,, | No comments

Dikisahkan ada seorang guru yang memiliki banyak murid, namun beliau memberikan perhatian lebih kepada salah seorang dari mereka. Hal ini membuat murid yang lain merasa iri dan menyampaiannya kepada sang guru. Sang guru ini kemudian berkata kepada mereka : "Kemarilah kalian biar aku jelaskan hal ini". Kemudian sang guru memberikan kepada setiap muridnya buah mangga tidak terkecuali murid kesayangannya, seraya berkata: "Sekarang berpencarlah kalian, dan kupaslah mangga yang aku berikan itu di tempat yang tidak bisa dilihat oleh siapapun".
Setelah itu semuanya pergi berpencar dan tak lama kemudian semuanya kembali dengan mangga yang telah dikupas, kecuali murid kesayangannya yang masih membawa mangga yang belum dikupas. Maka dihadapan semua muridnya sang guru pun bertanya kepada muridnya tersebut, "Mengapa engkau tidak mengupasnya?" Jawab si murid : "Guru menyuruh aku mengupas mangga ini ditempat yang tidak dapat dilihat oleh siapapun, dan aku tidak mendapatkan tempat yang guru inginkan itu ".
Kemudian sang guru berkata kepada semua muridnya: "KARENA INILAH AKU MEMBERIKAN PERHATIAN YANG LEBIH KEPADANYA"

Guru dalam Lingkar Entropi

Guru dalam Lingkar Entropi
Oleh S Hartono
(Suara Merdeka 19 Nov 2007)
DALAM tulisannya, Wahyudin Munawir (anggota DPR RI Fraksi PKS) mengupas APBN dan anggaran pendidikan. Yang menarik dari tulisan itu adalah bagaimana APBN dan anggaran pendidikan digambar dalam sebuah fenomena fisika entropi (keseimbangan termodinamis) atau derajat kecenderungan.
Untuk melihat bagaimana entropi itu bekerja, kita bisa membayangkan pola kerja embusan badai padang pasir. Suatu ketika, embusan badai mengakibatkan istana gugus pasir di gurun hancur berantakan, dan bahkan hilang; dan pada ketika lain pusaran angin itu justru memunculkan istana indah.
Ketika istana hancur, kejadian itu dikatakan entropi negatif. Sebaliknya, dikatakan bahwa gurun mengalami entropi positif kalau istana pasir justru terbentuk. Munawir memandang bahwa APBN dan anggaran pendidikan dari rezim Soeharto hingga sekarang menunjukkan kecenderungan negatif (Tempo, 31 Agustus 2007). Kecenderungan tersebut ditunjukkan dengan kondisinya yang konservatif. Ia menjelaskan bahwa APBN dan anggaran pendidikan tidak pernah propendidikan dan prorakyat.
Analog tersebut sungguh menarik, dan untuk itu saya menggunakannya sebagai pijakan untuk melakukan hal yang sama pada kondisi guru dan kondisi pendidikan lebih lanjut. Banyak kejadian pendidikan yang mengarah kepada anomali bisa disebut sebagai gejala entropi. Tiga di antaranya adalah pengingkaran logika, ketidakpatuhan pada hukum, dan pencederaan moral.
Pengingkaran Logika
Tahta kehormatan guru terletak pada kepatuhannya kepada ilmu dan kebenaran. Bisa dipastikan ketika seorang guru taat, ia akan selalu menyandang kehormatan. Sebaliknya, guru akan mendapatkan kenistaan apabila mengingkari ilmu dan kebenaran, karena guru sejatinya adalah ilmu itu sendiri.
Pada saat ini, banyak contoh kejadian yang mengarah kepada pengingkaran logika. Kejadian penyelenggaraan ujian nasional (UN) adalah contohnya. Guru maklum, bahwa UN sarat dengan kritikan, dan salah satunya dalam penggunaan parameter kelulusan.
Pada UN 2006 disebutkan bahwa seorang siswa dikatakan lulus bila mendapatkan nilai di atas 4,25 untuk setiap mata pelajaran. Itu artinya, seorang anak bisa lulus bila mendapatkan nilai bahasa Indonesia 4,26, bahasa Inggris 4,26, dan matematika 4,26.
Selintas tak ada yang aneh, namun menjadi persoalan ketika diuji dengan kriteria kedua, yaitu keharusan nilai rata-rata di atas 4,50. Antara kriteria pertama dan kedua mengisyaratkan logika putus, dan oleh karenanya ketika produk mereka diuji maka irisan yang tepat keduanya tidak pernah didapatkan.
Hal yang sama terjadi pada UN 2007. Pasal kelulusan kembali membuat masalah. Kriteria (pertama) berbunyi bahwa nilai minimal memenuhi persyaratan kelulusan adalah di atas 4,50, sementara itu kriteria kedua membolehkan nilai terendah (lulus) 4,00.
Meskipun kriteria kedua diikuti klausul nilai rata-rata di atas 6,00, namun tidak menolong tabrakan leksikal antara nilai minimal dan nilai terendah. Persoalan yang muncul kemudian adalah apa perbedaan antara kata terendah dan minimal? Guru akan mendapatkan kenistaan apabila mengingkari ilmu dan kebenaran, karena guru sejatinya adalah ilmu itu sendiri.
Dilihat dari bagaimana angin gurun menghancurkan istana pasir, maka pengingkaran logika dalam UN pantas dicurigai sebagai entropi yang sama. Kepatuhan guru pada mekanisme sistem UN adalah andil fatal pada entropi negatif itu.
Ketidakpatuhan pada Hukum
Sebagaimana Munawir, saya menggunakan anggaran pendidikan 20% untuk menggambarkan ketidakpatuhan kita pada hukum. Merujuk pada konstitusi (UUD 45), telah jelas bahwa pemerintah harus mengalokasikan 20% APBN dan APBD pada sektor pendidikan.
Fakta yang terjadi sangat ironis. Di tengah kesadaran akan pentingya pendidikan dan pembangunan karakter bangsa, anggaran kita tidak pernah patuh kepada konstitusi. Yang menyedihkan adalah ketidakpatuhan tersebut juga dikritik dan disesalkan oleh pihak-pihak yang semestinya bertanggung jawab atas kegagalan memiliki anggaran pendidikan 20%.
Dalam kasus UN, guru tidak melakukan advokasi (pembelaan) cukup, dan itu berarti bahwa ia ikut andil dalam pusarannya. Dalil bahwa pembahasan anggaran bukan menjadi tugas guru, tidak kuat untuk menutup sikap masa bodoh pada pendidikan. Pengingkaran atas anggaran (dan guru terlibat), berarti mendiamkan gedung sekolah roboh, menjadikan pendidikan murah sebatas slogan, dan menggantung supremasi ilmu sebatas lamunan. Semuanya itu entropi negatif.
Pencederaan Moral
Mengakhiri gambaran sebuah entropi, saya mengambil contoh pada implementasi Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD). Anatomi UU tersebut terang benderang: meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan guru. Persoalan muncul ketika sertifikasi yang dianggap sebagai pintu masuk dari perbaikan (kesejahteraan guru) tersebut bersifat kondisional. Artinya, kesejahteraan (guru) akan ditingkatkan ketika berhasil lulus dalam sertifikasi.
Karena menerima persyaratan demikian, moralitas guru benar-benar diuji. Pemberlakuan kuota dan prioritas karena alasan apa pun akan mengesampingkan keadilan.
Ikutan dari pengingkaran rasa keadilan tersebut, dipastikan bahwa sekat antarguru akan menganga lebar. Cepat atau lambat keharmonisan yang susah payah dibangun akan hancur, karena entropi yang sangat negatif.
Pengakuan terhadap senioritas, berarti membuat kasta-kasta yang potensial memecah belah. Banyak pihak telah mengalami ketakutan model sertifikasi kondisional demikian.
Dikhawatirkan, ketidakharmonisan akan membuat guru sendiri putus asa dan akan mencadangkan stok pengabdian kondisional yang sama. Artinya, guru juga merasa sah untuk bekerja (keras) baru setelah gajinya dinaikkan. Kita tidak bisa membayangkan kalau kekhawatiran itu terbukti benar.
Guru layak untuk merenungkan ketiga entropi tersebut. Kristalisasi dari perenungan tersebut pasti akan bermuara kepada jawaban mengapa guru dan pendidikan tidak pernah beranjak dari keterpurukan. Hal penting dari kontemplasi yang dilakukannya adalah keberanian guru mengubah arah kecenderungan pusaran kebijakan, dari negatif ke positif. Akankah guru memiliki cukup nyali?(68)
- S Hartono, ketua Andina (Advokasi Pendidikan Nasional) Indonesia

Bekerja dalam Team

Ketika semalam memberi pelatihan untuk kepala sekolah di kalangan Dikdasmen Muhammadiyah di SKB Cepiring, saya ajak peserta untuk bermain "GAMES". Awalnya peserta saya minta untuk menuliskan impian-impian tentang sekolah yang mereka pimpin. Ternyata banyak juga lho yang kesulitan menuliskan mimpi yang ingin diwujudkan. Kalau mimpi/ keinginan dan cita-cata saja nggak ada mana mungkin bisa mewujudkan perubahan di sekolah.
Pada sesi berikutnya saya ajak peserta untuk mengenal adanya keragaman melalui sebuah games, tujuannya dengan mengalami sendiri adanya keragaman mereka akan menyadari bahwa dalam mengelola sekolah harus mengakomodir banyak kepentingan dan keragaman .
Di sesi yang lain peserta melaksanakan games akan pentingnya komunikasi dalam tim. Wah seru,... ternyata meskipun mereka para kepala sekolah kalau sudah kerja kelompok nggak beda jauh dengan murid-murid, hebooh. Tapi akhirnya melalui diskusi hasil games yang dilakukan disadari bahwa dalam bekerja dalam tim diperlukan komunikasi yang intensif. Senyara nyata mereka dapat membedakan hasil pekerjaan yang dilakukan tanpa komunikasi ternyata hasilnya nggak jelas dan tidak membentuk, sementara pekerjaan yang dibuat dengan mengedepankan komunikasi, kerja sama dan pembagian tugas yang jelas hasilnya nyata.
Pelatihan di tutup dengan mengkaji hukum-hukum team work.
Semoga pelatihan semalam bermanfaat, dan bisa mewarnai perubahan pola manajemen di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

17 November 2007

Workshop Pemberdayaan Komite Sekolah

Posted by Utomo 7:05 AM, under , | 2 comments

Dewan Pendidikan Kabupaten Kendal mengundang 140 komite sekolah untuk mengikuti Workshop Pemberdayaan Komite Sekolah. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan komite sekolah sehingga dapat lebih meniungkatkan fungsi dan perannya sebagai mitra kerja sekolah.
Komite sekolah yang diundang terdiri dari :
1. 20 komite SMA/MA/SMK
2. 40 komite SMP/MTs
3. 80 komite SD/MI
Adapun pelaksanaan kegiatan tesebut adalah pada :
Hari/tanggal : Kamis, 22 Nov 2007
Tempat : pendopo Kabupaten Kendal
Waktu : mulai pk. 07.30
Workshop akan dibuka oleh Wakil Bupati Kendal sekaligus mengukuhkan pengurus baru Dewan Pendidikan periode 2007-2011

Standar Pendidikan

Posted by Utomo 6:10 AM, under | 1 comment

Diberitahukan kepada segenap kepala sekolah dan guru bahwa dokumen standar nasional pendidikan yang telah terbit adalah:
1. Standar Isi (Permendiknas No.22 tahun 2006)
2. Standar Kelulusan (Permendiknas No.23 tahun 2006)
3. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
a. Standar Pendidik
b. Standar Kepala Sekolah (Permen No. 13 tahun 2007)
c. Standar Pengawas Sekolah (Permen No.12 Tahun 2007)
4. Standar Pengelolaan (Permendiknas No.19 tahun 2007)
5. Standar Penilaian (Permendiknas No. 20 tahun 2007)
6. Standar Sarana dan Prasaran (Permendiknas No. 24 tahun 2007)
Dokumen tersebut dapat di download pada situs BSNP. atau hard copy dapat menghubungi Subdin PP Dinas P dan K Kabupaten Kendal atau menghubungi pengawas sekolahnya masing-masing.

Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal

Posted by Utomo 5:49 AM, under | 1 comment

Bertempat di Kompleks Pondok Modern SELAMAT Kabupaten Kendal Tim Pengembang Kurikulum melaksanakan Workshop Penyusunan Kurikulum Muatan Lokal. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu sekolah dalam menyediakan dokumen Kurikulum muatan lokal di Kabupaten Kendal.
Kegiatan ini diikuti oleh 140 orang guru muatan lokal yang terdiri dari 9 kelompok mata pelajaran muatan lokal yaitu 6 mata pelajaran muatan lokal SMP, 2 mata pelajaran muatan lokal SMA dan 1 mata pelajaran muatan lokal SMK.
Workshop diawali dengan penjelasan tentang teknik penyusunan kurikulum muatan lokal oleh nara sumber dan dilanjutkan dengan kerja kelompok. Kegiatan akan dilanjutkan dengan uji publik dan keterbacaan dokumen melalui kegiatan di MGMP.

Penanda

Arsip Blog